Se-Detik.Com
| -
Pasang Iklan Murah

Tokoh

Pro Kontra

Eyang Subur Calonkan Diri Sebagai Presiden 2014

"Eyang Subur akan muncul saat deklarasi dirinya sebagai capres," kata Ramdan Alamsyah, pengacara Eyang Subur. Bila setuju, pilih Pro!

Pro!
Kontra!
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan

Berawal Dari Sayur Lodeh, Soekarno Jatuh Cinta Pada Hartini

NTB-News.Com - Memiliki kharisma yang mempesona membuat mantan presiden RI pertama ini dipuja banyak wanita cantik. Bahkan, sepanjang hidupnya, Soekarno dikelilingi wanita-wanita cantik yang bersedia menjadi istri baginya.

Tercatat oleh negara, sembilan istri sempat dinikahi Soekarno. Berbekal intelektualitas yang tinggi, kesopanan, serta sikap yang hangat, sulit rasanya menolak cinta dari pria yang menjadi nomor satu di bumi pertiwi.

Dalam pernikahannya, istri keempat Soekarno adalah sosok yang dikenal setia mempertahankan status pernikahannya. Sekalipun Soekarno sempat kecantol dan menikah dengan wanita lain, ia tak keberatan dimadu. Sedangkan istri kedua dan ketiganya, memilih hidup tenang dan kembali pada kesendiriannya.

Diceritakan, Hartini dipinang oleh sang proklamator pada 1953. Saat itu Hartini berusia 29 tahun dengan status janda beranak lima.

Dikutip dari Merdeka.com, keduanya mengawali pertemuan di Candi Prambanan, Jawa Tengah. Saat itu Soekarno sedang mengadakan kunjungan kerja. Sebuah sumber lain, penasoekarno.wordpress.com mengatakan bahwa Hartini adalah salah satu ibu-ibu yang sibuk di dapur rumah Walikota Salatiga, di mana Soekarno singgah setelah memberikan pidato di Lapangan Tamansari.

Lelah berorasi di depan rakyat, Soekarnopun diajak mampir dan menikmati menu makan siang yang telah disiapkan. Aroma masakan sayur lodeh yang disiapkan Hartini membuat Soekarno bertanya-tanya, siapa gerangan yang memasak sayur lodeh kesukaannya dengan rasa seenak itu. Di sanalah awal keduanya berkenalan dan berjabat tangan dengan erat.

Sekembalinya Soekarno ke Jakarta, ia tak bisa melupakan paras ayu nan lembut Hartini. Menyadari bahwa ini adalah rindu, Soekarno kemudian mengambil secari kertas, dan menuliskan sebaris kalimat sebagai surat cinta pertamanya:
 
 
"Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir."  
 
Senang dengan panggilan kesayangan 'Tien' yang dilontarkan Soekarno, Hartinipun mulai galau. Namun, ia menikmati surat-surat bernada cinta dan telegram-telegram yang semakin sering dikirimkan. Kali ini, Soekarno menyematkan nama Srihana, nama samaran yang dipakai saat menuliskan surat cintanya pada Hartini, yang disebut Srihani. Demikianlah kisah cinta Srihana Srihani terus berlanjut.

Dilamar sebagai istri, tak langsung membuat janda berparas ayu mempesona itu mengiyakan pinangan Soekarno. Ia butuh waktu yang cukup lama untuk mengiyakannya. Pak Osan Murawi dan Mbok Mairah, kedua orangtua Hartini pernah mengatakan sebuah pernyataan atas kebimbangan hati putrinya, "Dimadu itu abot, biarpun oleh raja atau presiden. Opo kowe kuat? Tanyakan hatimu. Apapun keputusanmu, kami memberi restu..."

Berbekal dukungan orangtuanya, akhirnya Hartini tak kuasa menolak pinangan Soekarno lagi. Namun, ia adalah wanita yang tahu diri. Ia meminta Fatmawati untuk tetap menjadi ibu negara, sedangkan dirinya tetap menjadi istri kedua.
 
 
"Ya, dalem bersedia menjadi istri Nandalem. Tapi dengan syarat, ibu Fat tetap first lady, saya istri kedua. Saya tidak mau ibu Fat diceraikan, karena kami sama-sama wanita."  
 
Kelembutan, kebijaksanaan dan kesetiaan Hartini ini dibuktikan dengan tetap menjadi istri saat kekuasaan Soekarno sudah memasuki usia senja. Dalam pernikahannya, mereka dikaruniai dua putra yaitu Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra.

Hartini tetap mendampingi Soekarno hingga ajal menjemputnya. Bahkan, kabarnya beliau menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Hartini, di RS Gatot Subroto, 21 Juni 1970.

(http://www.vemale.com/inspiring/lentera/20366-berawal-dari-sayur-lodeh-soekarno-jatuh-cinta-pada-hartini.html)

Kisah Cinta Romantis Pak Dahlan Iskan dan Istrinya

NTB-News.Com - Cinta itu seperti membangun keping-keping bata untuk menjadi sebuah rumah.
Awalnya hanya tanah, tetapi dengan kesabaran, bata-bata itu menjadi bangunan kokoh yang tidak akan terguncang apapun.

Itulah kalimat yang bisa menggambarkan perjalanan cinta Menteri BUMN Indonesia, bapak Dahlan Iskan dan ibu Nafsiah Sabri. Keduanya adalah pasangan suami istri yang memulai cinta dari kesederhanaan.

Dengan saling menopang, saling mendukung dan percaya, kehidupan mereka semakin membaik. Kehidupan yang semakin baik itu tidak melunturkan cinta diantara mereka, justru semakin lengket dan mesra di usia yang sudah tidak lagi muda.

Dilansir dari Merdeka.com, inilah kisah cinta bapak Dahlan Iskan dan ibu Nafsiah Sabri.

Dari Ceramah Agama, Berlanjut Boncengan Sepeda

Awal mula pertemuan pak Dahlan dan ibu Nafsiah bisa dikatakan unik. Keduanya sama-sama memberikan ceramah agama di sebuah stasiun radio Semarang. Karena masih malu dan belum berani menyatakan cinta, pak Dahlan menawarkan membonceng ibu Nafsiah muda dengan sepeda. Hal ini terus dilakukan setiap kali berangkat siaran radio.

"Dulu saya hanya punya sepeda dan berangkat boncengan. Saya lihat sepertinya Ia bisa menjadi ibu yang hebat," ujar pak Dahlan Iskan. So sweet..

Di mata pak Dahlan Iskan, ibu Nafsiah adalah perempuan yang salehah, ceria, mandiri dan humoris. Tidak ingin berlama-lama, pak Dahlan Iskan menikahi ibu Nafsiah Sabri pada tahun 1975. Saat itu, usia pak Dahlan 25 tahun sedangkan usia ibu Nafsiah 22 tahun.

Kehidupan Awal Pernikahan Yang Sulit

Pada masa awal pernikahan, pak Dahlan tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia meninggalkan bangku kuliah dan memilih menjadi reporter lepas di sebuah surat kabar di Semarang. Kondisi yang sulit itu tidak menyurutkan cinta ibu Nafsiah. Beliau tetap menjadi istri yang setia, penurut dan mencintai pak Dahlan sepenuh hati. Di sepanjang usia pernikahan mereka, pak Dahlan dan ibu Nafsiah dikaruniai dua putra Azrul Ananda dan Isna Fitriana.

"Kehidupan sehari-hari lebih banyak dibantu dari gaji istri saya yang menjadi guru SD waktu itu. Ketika lahir anak pertama, Azrul Ananda, kita bisa menyewa rumah yang ada kamarnya, meski di gang sempit," ujar pak Dahlan.

Setia Walaupun Pak Dahlan Sakit

Kesetiaan adalah kunci sebuah pernikahan yang langgeng, hal itu diperlihatkan oleh pengabdian ibu Nafsiah. Walaupun pak Dahlan Iskan divonis mengidap kanker hati ganas, beliau tetap setia menemani suaminya. Pada tahun 2008, pak Dahlan melakukan operasi transplantasi hati untuk kesembuhannya.

Cinta keduanya tidak surut dimakan usia. Ibu Nafsiah tetap mendukung langkah karir suaminya, mulai dari reporter lepas hingga menjadi Menteri BUMN seperti saat ini. Bahkan saat pak Dahlan menjual e-troll di jalan tol, ibu Nafsiah menemani dan membantu suami walau harus berpanas-panas di bawah terik sinar matahari.

Tetap Suka Masakan Ibu Nafsiah

Menjadi seorang pejabat negara tidak membuat pak Dahlan melupakan hangat dan lezatnya masakan sang istri. Hingga sekarang, ibu Nafsiah masih sering membuat masakan untuk pak Dahlan untuk dimakan di Gedung Kementrian. Pak Dahlan bukan tipe pria yang malu membawa bekal dari rumah, beliau bahkan menawarkan dan membanggakan masakan istrinya di depan para wartawan. Menteri energik yang satu ini juga lebih senang menikmati masakan istrinya ketimbang makan di luar.
Semoga kebahagiaan dalam kisah cinta ini menular pada kita semua.

I love you with all of my heart, body ,and soul.
You complete me.
You make my life worth living.

(http://www.vemale.com/inspiring/lentera/20351-kisah-cinta-romantis-pak-dahlan-iskan-dan-istrinya.html)

Puisi Cinta Karya Pak Habibie Untuk Mengenang Ibu Ainun

NTB-News.Com - Cinta sejati tidak akan pernah padam, walaupun raga sudah pergi menghadap sang Pencipta.
Keabadian cinta sejati yang diberikan bapak BJ Habibie kepada ibu Ainun tidak hanya dirasakan mereka berdua, tetapi juga dirasakan seluruh warga Indonesia. Saat berita wafatnya ibu Ainun tersebar, kita bisa melihat sendiri bagaimana bapak Habibie sangat kehilangan. Saat kesedihan dalam wajah terpancar, maka kesedihan dan rasa kehilangan itu menyentuh hati kita. Kita bisa merasakan betapa besar cinta seorang BJ Habibie kepada mendiang istrinya.
Seribu hari telah berlalu. Pada tanggal 15 Februari 2013, berlangsung peringatan 1.000 hari wafatnya Ainun di kediaman Habibie, Jl. Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan. Dalam acara tersebut, bapak Habibie menuliskan sebuah puisi cinta untuk ibu Ainun. Inilah puisi yang menggambarkan betapa dalam rasa cinta beliau.


SERIBU



Sudah seribu hari Ainun pindah ke dimensi dan keadaan berbeda.
Lingkunganmu, kemampuanmu, dan kebutuhanmu pula berbeda.
Karena cinta murni, suci, sejati, sempurna dan abadi tak berbeda.
Kita tetap manunggal, menyatu dan tak berbeda sepanjang masa.

Ragamu di Taman Pahlawan bersama Pahlawan bangsa lainnya.
Jiwa, roh, bathin dan nuranimu menyatu denganku.
Di mana ada Ainun ada Habibie, di mana ada Habibie ada Ainun.
Tetap manunggal dan menyatu tak terpisahkan lagi sepanjang masa.

"Titipan Allah bibit cinta Ilahi pada tiap insan kehidupan di mana pun.
Sesuai keinginan, kemampuan, kekuatan dan kehendak-Mu Allah.
Kami siram dengan kasih sayang, cinta, iman, taqwa dan budaya kami,
Yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi sepanjang masa.

Allah, lindungi kami dari godaan, gangguan mencemari cinta kami.
Perekat kami menyatu, manunggal jiwa, roh, bathin dan nurani kami.
Di mana pun, dalam keadaan apa pun kami tetap tak terpisahkan lagi.
Seribu hari, seribu tahun, seribu juta tahun.. sampai akhirat.

Bacharuddin Jusuf Habibie
Jakarta, 15 Februari 2013 

Semoga cinta abadi ini tidak hanya dirasakan oleh bapak Habibie dan ibu Ainun, semoga kita juga merasakan cinta sejati yang sama.

(http://www.vemale.com/inspiring/lentera/20323-puisi-cinta-karya-pak-habibie-untuk-mengenang-ibu-ainun.html)
Back Home
 
Pasang Iklan Murah

Hikmah

Inspirasi

Khazanah

Gallery

Video

Unik

Ragam

Tips

Wawasan