Se-Detik.Com
| -
Pasang Iklan Murah

Tokoh

Pro Kontra

Eyang Subur Calonkan Diri Sebagai Presiden 2014

"Eyang Subur akan muncul saat deklarasi dirinya sebagai capres," kata Ramdan Alamsyah, pengacara Eyang Subur. Bila setuju, pilih Pro!

Pro!
Kontra!
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen: Kugendong Kau Sampai Ajal Menjemput

NTB-News.Com - Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku. Sambil memegang tangannya aku berkata, “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku.

Aku ingin sebuah perceraian di antara kami, karena itu aku beranikan diriku. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik bertanya kepadaku dengan tenang, “Mengapa?” Aku menolak menjawabnya, ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin tahu alasan di balik keinginanku untuk bercerai.

Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai dan dia dapat memiliki rumah kami, mobil, dan 30% dari keuntungan perusahaan kami.
Dia sungguh marah dan merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku itu telah menjadi orang yang asing di hatiku.
Aku minta maaf kepadanya karena dia telah membuang waktunya 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energi yang diberikan kepadaku, tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane, wanita simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Istriku menangis lagi.
Bagiku tangisannya sekarang tidak berarti apa-apa lagi. Keinginanku untuk bercerai telah bulat.

Hari berikutnya, ketika aku kembali ke rumah sedikit larut, kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane. Ketika terbangun, kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.

Pagi harinya, dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku. Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum perceraian.
Dia memintaku dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami istri. Alasannya sangat sederhana. Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami.
Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai muka depan pintu setiap pagi.
Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah demi perceraian yang kuinginkan, aku pun menyetujui syarat-syarat yang dia berikan.
Aku menceritakan kepada Jane tentang hal itu. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan,” kata Jane.

Ada rasa kaku saat menggendongnya untuk pertama kali, karena kami memang tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri belakangan ini. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan di belakang kami. “Wow, papa sedang menggendong mama.” Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata, “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya, sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.

Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuhnya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama untuk waktu yang agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda seperti dulu lagi, ada bintik-bintik kecil di wajahnya, rambutnya pun sudah mulai beruban. Namun entah kenapa, hal itu membuatku mengingat bagaimana pernikahan kami dulu.

Pada hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku mulai merasakan kedekatan. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tentu tidak mengatakan perasaan ini kepada Jane.

Suatu hari, aku memperhatikan dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Dia sedikit mengeluh, “Semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang.” Aku mulai menyadari bahwa dia semakin kurus dan itulah sebabnya kenapa aku dapat dengan mudah menggendongnya. Aku menyadari bahwa dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.

Tiba-tiba putra kami muncul dan berkata,” Papa, sekarang saatnya untuk menggendong dan membawa mama.” Bagi putraku, melihatku menggendong dan membawa mamanya menjadi peristiwa yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku dari peristiwa yang bisa mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai.
Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun memeluk erat tubuhnya, seperti momen hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu. Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih.

Pada hari terakhir, aku menggendongnya dengan kedua lenganku. Aku susah bergerak meski cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluknya erat sambil berkata, “Aku tidak pernah memperhatikan selama ini hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain.”
Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku, mampir ke tempat Jane. Melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Begitu cepatnya karena aku takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku langsung berkata padanya. “Maaf Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku.”

Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Aku mengelak dan berkata, “Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari sejak aku menggendongnya sebagai syaratnya itu, aku ingin terus menggendongnya sampai hari kematian kami.”

Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”

Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum menghias wajahku. Aku berlari hanya untuk bertemu dengan istriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami. Tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun pernikahan kami.

Aku baru tahu kalau istriku selama ini berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat.
Meskipun begitu, dia ingin menyelamatkanku dari pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami karena aku menginginkan perceraian, karena reaksi kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun yang mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami.

Betapa berharganya sebuah pernikahan saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya berharga. Ingat ketika dulu perjuangan yang harus dilakukan, ingat tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi di antara kalian, ingat juga tentang janji pernikahan yang telah dikatakan. Semuanya itu harusnya hanya berakhir saat maut memisahkan.
——————
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.

Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya.

Sumber: BLOGSERBA

Cerpen Okezone : Ketika Cantik Itu Hitam

NTB-News.Com - Sebuah layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini.

Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu.

Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching.

Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV.

Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di  sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorak-porandakan bangunan.

Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas  pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu.

Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera.
*********

Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca.

Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur.

Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta.

Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi.

Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang mengembalikannya lagi ke hitam lagi.

“Dunia sudah terbalik,” gumamku, sambil menggelengkan kepala. Inilah janji Tuhan,” Pada hari itu, akan Kami putar (nasib) manusia,” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci, yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at.

Memang, hidup itu seperti komidi putar. Selalu berputar, kadang kita berada di posisi bawah, tengah, dan terkadang di puncak. Itulah sunnatullah, hukum alam. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika, atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. Dan sekarang, hari ini,  kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama, membentuk gerakan –gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. Nyatanya, ketika mayoritas berkuasa, merekapun menjadi sewenang-wenang, diskriminatif dan menindas minoritas.
*********

Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar, seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. Di dalam Kijang Inova, duduk dua orang setengah baya di jok paling depan. Itulah aku dan istriku, yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. Di kaca depan sebelah atas, terpampang jam digital kecil dengan format: jam, tanggal/bulan/tahun. Sambil menyetir, kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu.

”Sudah jam setengah tujuh,” kataku kepada istriku, sambil sesekali memandangnya. Hari ini Senin, 16 Juli 2018, adalah hari pertama kerja bagi Istriku, setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. Istriku, seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru.

Mobil berhenti karena lampu merah. Di hadapanku sebelah kanan, tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini, maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”. Ya, gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds, lotion penghitam wajah”. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian, Rasakan Hasilnya!”.

“ Bune ingin seperti gadis itu?”, kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. “Walah Pakne, lha wong udah tua gini kok neka-neko,” jawabnya dengan logat Jawa kental. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah, Kudus tepatnya. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta.


“ Iya ya Bune…, dunia sudah terbalik sekarang” gumamku, seakan prihatin.
“Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”, tanyanya manja. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”, tambahnya menggoda. “Iya Bune, saya suka dengan wajah Bune yang alami. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon, Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu.

Ternyata Tuhan seakan menguji kita. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu, kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“, Jawab istriku, bangga. Seakan bersyukur dengan sepenuh  hati atas keadaannya selama ini.

Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. Setelah istriku turun dan mencium tanganku, akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. “Cantik itu relatif, sesuai tren zamannya….” batinku, sambil tertawa kecil.

Kedung Banteng, pada suatu ketika

Muhamad Mustaqim

Dikutip dari: www.okezone.com

Cerpen Kompasiana: Sepenggal Kisah Senjakala

NTB-News.Com - Angin bertiup kencang ke arah seorang pria yang sedang duduk termenung beralaskan pasir pantai. Berangan-angan kejam dan imajinasi diluar batas. Dari bibirnya keluar setetes darah segar, yang kemudian ditepisnya dengan telunjuk tangan kanannya.  Pikirannya menerawang jauh dari bibir pantai, mengikuti pelarian ombak hingga ke dasar lautan yang luas dan dalam. Seakan mulai mencari-cari di kegelapan dasar lautan yang ia sendiri tahu bahwa ia tidak akan menemukan jawabannya. Ia teringat seorang gadis, berambut panjang hitam dan bermata cokelat. Ia mungkin tidak akan bisa menangkap jalan pikiran gadis itu. Ya! Ia memang bisa melewati batas pikiran setiap orang yang dilaluinya, terkecuali gadis itu.
Siapa gerangan gadis itu sebenarnya?, pikirnya dalam hati. Seketika ia melompat ke salah satu pohon dan melompat ke pohon lain dengan lincah dan secepat kilat sambil membawa pikirannya melompat-lompat bersamanya.
***
Keesokan harinya, Pukul 11 pagi. Depan loker.
“Mori, apa kau punya masalah denganku?”
“Aku rasa tidak, lalu kenapa? Bukankah kita baru saja kenal?”
“Hmm.. Sudahlah lupakan,”
“Tunggu! Kau ini aneh. Memang ada apa denganku?”
Juno tidak menjawab, ia malah bergegas pergi bak orang salah tingkah.
“Juno, tunggu!” ujar Mori berusaha menghentikan langkah Juno. Saat itu, Juno hanya membalikkan badan sambil tersenyum tipis , pergi meninggalkan bayang-bayangnya yang misterius dan sejuta tanya di hati Mori.
Tiba-tiba dari arah sebaliknya, Gina, kawan barunya menepuk pundaknya dan mengagetkan lamunan Mori yang masih menatap bayangan Juno.
“Hey, Gin! Gina, aku mau tanya sesuatu. Apa kau merasakan ada sesuatu yang aneh pada Juno?”
“Hmmm, Juno ya? Ya, yang aku tahu selama ini ya dia itu salah satu putra angkat keluarga Wiradiningrat, dia punya saudara-saudara yang selalu bersama kemanapun mereka pergi. Yah, memang ada yang ganjal sih dalam penampilan mereka. Tapi, aku rasa mereka semua baik. Memang ada apa Mor?”
Mori hanya tersenyum simpul mendengar penjelasan kawan barunya itu, lalu menjawab dengan kikuk.
“Oh gitu ya… Hmm, tidak apa-apa kok. Cuma ingin tanya aja,”
***
Pukul 2 siang. Di laboratorium.
“Hey, apa kita satu kelompok?”, tanya Juno berusaha ramah dan melupakan kejadian kemarin.
“Ya, aku rasa begitu. Ayo, kita selesaikan tugas ini,” ujar Mori tegas.
Sesaat Mori merasa ada yang mengganjal di hati dan pikirannya. Ia menatap lekat-lekat pria yang ada di sampingnya, berusaha menelanjangi pria itu dari bawah hingga atas dan dari luar hingga dalam. Pikiran dan hati Mori berusaha menerka-nerka makhluk macam apa yang sebenarnya dia tengah hadapi saat ini.
Tidak berbeda dengan Mori, Juno juga melakukan hal yang sama. Ia mulai melirik ke arah mata coklat Mori, siapa tahu ia bisa membaca sesuatu di mata gadis itu. Tapi, hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak bisa membaca apapun.
Keduanya saling berpandangan. Saling berusaha menemukan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan bahan interogasi. Setelah mereka tersadar atas apa yang mereka tengah lakukan, mereka kembali menyibukkan diri masing-masing dan mulai melakukan eksperimen pada tugas biologi mereka.
“Juno, kau terlihat pucat. Kau sakit?”
“Oh apa iya begitu? Tidak, aku sama sekali tidak sakit. Aku sehat,”
“Oh oke kalau begitu. Juno, aku mau tanya sesuatu. Pada saat kau menolongku tempo hari, apa kau benar-benar berlari secepat itu?”
“Maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti. Aku memang kebetulan sedang berada di dekatmu,”
“Tidak, jarakmu pada saat itu cukup jauh. Aku melihatmu sedang di dekat tangga menuju lobi dengan saudara-saudaramu. Sedangkan aku, waktu itu aku sedang di tempat parkir. Kita sama-sama tahu jarak seperti itu cukup jauh, bukan?”
“Umm.. Aku rasa kau mungkin hanya berhalusinasi, mungkin kau masih shock,”
“Begitu ya? Baiklah,” ujar Mori yang sebenarnya belum puas mendengar jawaban Juno barusan.
***
Pukul 6 Sore. Pantai.
Mori duduk terdiam di bibir pantai, membiarkan kakinya yang putih bersih dijilat oleh deburan kecil ombak pantai. Ia berpikir bahwa mungkin ia dapat ikut ke dalam komplotan ombak dan tenggelam ke dasar lautan yang dalam.  Ia membayangkan dirinya terjebak di antara kegelapan yang merajalela dan secercah cahaya yang mulai tenggelam. Sangat sulit untuk keluar.
Mori bergegas memakai sepatunya dan hendak pulang ke rumah karena hari sudah mulai gelap. Saat itu suasana pantai menjadi terasa sunyi, lembab dan diliputi hawa misterius yang kapan saja bisa melahap jiwa-jiwa bahagia dan mengubahnya menjadi derita. Dan Mori tidak ingin hal itu terjadi padanya. Saat ia membalikkan badan, ia mendapati dirinya tengah di hadang oleh seorang pria yang ia kenal. Ya! Dia adalah Juno.  Namun Juno terlihat berbeda, seperti biasa terlihat darah segar yang bekas di hapus menempel di sudut bibirnya. Mori tersentak kaget tak percaya melihat makhluk yang ada di hadapannya.
“Jadi, kau ini?”
“Ya! Aku bukan manusia seutuhnya seperti kau. Tapi tenang, aku hanya minum itu dari hewan-hewan di sekitar hutan dekat pantai dan aku hanya beraksi di kala malam menjelang. Aku harap kau bisa menyembunyikan hal ini dari siapapun,” (Putri Nurfitriyana)

Sumber: Kompasiana
Back Home
 
Pasang Iklan Murah

Hikmah

Inspirasi

Khazanah

Gallery

Video

Unik

Ragam

Tips

Wawasan